Jumat, 01 Mei 2015

RASA YANG TERBEBANI



Ketika dunia ini terbalik, aku harus siap berada di dua arah yang bermusuhan dimana ketika hidup dan kesenangan bersamaku, dan ketika bagaimana Tuhan mengujiku dengan garis tangan-Nya.
Di detik yang sama waktu mengajakku mengembara dalam dimensinya “dulu”, sontak hati ku menganga, iba ku menjerit dan sesal membumbung tinggi hingga mampu membucahkan seluruh air mata ku.

Tak ada yang mampu menggantikan posisimu, maafkan aku telah meninggalkan mu kemarin hari, aku telah menyia-nyiakan kasihmu, dan kini penyesalanku telah sempurna, karena kau telah memiliki pribadi baru untuk mengisi hatimu, sahabat kecilku, tak pernah ada sedikitpun benci untuknya, karena aku yakin dia lebih pantas untukmu dan aku hanyalah pribadi bodoh yang begitu mudahnya membuang hatimu, dan membiarkannya untuk diambil orang lain dengan mudah.


Beberapa hari kemarin aku melihatmu bersanding dengan nya dalam sebuah foto di jaringan sosial dunia maya, tak mampu lagi kusembunyikan cemburu berapi dalam jiwaku. Seluruhnya terkuasai dan di akhir foto itu berkelebat, tanpa terasa seonnggok air menggenang di sudut mataku hingga terjatuh karena tak tertahankan lagi,tak hanya itu sebuah status yang ia buat pun mampu membuat gelora dalam darahku naik hingga aku pun tak sadar bahwa perasaanku telah hanyut begitu jauh, badanku tiba-tiba melemas entah kenapa, untunglah semuanya berakhir cepat saat Nina teman seasrama memergokiku tengah melamun, “hei” sontak aku berbalik dengan hati masih dag dig dug dan berakhir dengan menghela, “mmmhh” yang dikagetin menjawab datar. “lo ngelamun?” lanjutnya, “mau jadi miss galau nie ye!” sambungnya diakhiri dengan mencubit pipiku, dan hanya beberapa detik setelahnya, Nina pergi.

Lamunanku jauh menerawang sang waktu, meinginkanku untuk mengingat masa-masa ku bersamanya DULU.
“jangan pernah kau ragukan aku disini, karena sekejap pun aku tak akan pernah berpaling darimu, ingat! sekejap pun” tutur yang diakhiri dengan senyuman yang merebah menghiasi parasnya, alisnya yang tebal bagai nyiur yang melambai di pesisir pantai menginginkan ombak menyentunya, begitu kuat, mata yang cokelat pekat menambah bumbu ketampanan yang sempurna sebagai ciptaan Tuhan yang satu ini, dagu yang seolah dua bukit yang menjulang tinggi dan terpisahkan oleh aliran sungai kecil, kali ini pun seolah Tuhan tak hentinya memahat makhlukNya dengan berbagai cara untuk menunjukan kekuasaanNya, begitu memikat memang, namun saat itu hanya ada sedikit rasa untuknya, dan aku terkesan lebih mengabaikannya, meski disekelilingku mengutukku karena telah tega menaruhnya dalam status yang penuh dengan ketidak pastian, anehnya yang dikutuk tak pernah menaruh perhatiannya

Kesadaran membawaku akan sebuah kebahagian yang pernah menghampiriku namun aku membuangnya dan membiarkan orang lain mengambilnya dengan mudah, saat itu aku benar-benar tak berpikir bahwa dia adalah titik tumpu kebahagian ku di langkah-langkahku di kemudian hari, namun disana aku justru mengasingkannya tanpa merasa terbebani sedikitpun, hari-hariku bersamanya sangatlah singkat.
Saat ini aku tak memungkiri akan rasa ini yang kemudian hadir kembali setelah sekian lama telah ku abaikan, dan saat dimana rasa ini telah ada, dunia seakan mengutukku akan sikapku padanya dulu, aku menyayanginya namun sisi lain dia memiliki rasa yang tak hanya untukku, dan dia telah memiliki pribadi baru dalam hatinya, aku tau dan aku sadar waktu takkan pernah kembali dan mentari pun akan enggan untuk kembali pada posisi saat dimana ia mulai terbit. keadaanku sungguh memilukan, bagaimana tidak! aku telah mencoba untuk mencintai orang lain, namun tak ku temukan seorang pun di antara mereka yang tulus, entah itu karena uang yang kumiliki atau kebaikanku yang berlebihan sehingga aku dimanfaatkannya, aku beruntung Tuhan masih bersamaku, ia tak membiarkanku terlarut dalam keegoisan dan kepalsuan cinta.

Ketika semuanya terdiam dalam hangat kasih sayang bersama balutan selimut-Nya, aku masih terjaga bersama laptop mini yang selama setengah tahun ini menemani setiap huruf dalam lembar slide yang ku buat.
Sesekali mataku melirik handphone yang sengaja ku letakkan di samping tempat tidurku, dan tak ku sembunyikan harapku, berharap dia tak lupa mengirim e-mail singkat sebelum dia tidur. Tak terasa mataku telah menatap handphone selama 2 jam, namun pesan singat yang kutunggu tak kunjung ku terima “apakah kamu lupa?, apakah kamu sudah tidur? apakah dia melarangmu untuk berpesan denganku?”, otakku terus berputar menanyakan akan adanya diri nya, alam di bawah rasa ku menyadarkanku akan posisiku yang kembali membuat mata ini meleleh, “aku tau diri,sekarang dia bukanlah dia yang dulu, aku siapa dan dia pun siapa?”.

Aku mencoba untuk berbicara pada ibu tentang semua hal di sekelilingku, Di sela-sela ceritaku bersama ibu, kusempatkan untuk menanyakan perihal pendapatnya mengenai aku dengan nya, dengan tegas ibu melarangku, bukan karena beliau tak setuju atau pun karena dia tak mempunyai pendidikan tinggi, alasan ibu hanya satu, karena dia sekarang telah dimiliki oleh orang lain, mungkin ibu benar tak harus rasa ini ada dan tak harus aku terus memikirkannya karena sekarang lain dengan dulu, aku tak mau keegoisan ku menghancurkan semuanya, baiknya aku pergi jika dia enggan untuk memilih antara aku dan “dia”. Jika memang harus aku yang sakit, aku terima karena ini pilihanku, aku yakin “dia” jauh lebih baik dan mampu membahagiakannya lebih dariku. Yang tersisa hanyalah memory yang telah rapuh dimakan rayap.
Mencintai dan dicintaimu adalah hal terindah yang pernah kualami selama hidupku, aku tak akan melupakanmu namun aku akan membuang semuanya tentangmu.

Kuakui ini duri dalam istana barumu
Kuakui ini parasit dalam fikirmu
Berbagai koas ku toreh dalam kanfasku yang usang
Namun aku tak menemui suka,
Lukisanku tak mau bergerak,
Seolah semua tintaku tak memiliki warna
Kian luntur jika kubuat
Masa ku dengan mu tak ingin pergi
Mereka tetap diam dalam sepi
Sepi yang tak kunjung menemui akhir
Aku tak mampu untuk terus bertahan dalam keadaan yang sama, butuh hati yang siap untuk bersabar dan tersakiti, aku memang menginginkan berbahagia bersamamu namun apa artinya bahagiaku jika kau tak bahagia. karena sekarang aku sadar bahagiaku bukan hanya bahagiaku saja, tapi bahagiamu, meski itu bukan bersamaku.
Rasa ini seolah gunung tinggi yang yang tak mampu ku daki. Entah aku harus berhenti atau terus berjalan…
Dan aku mengalah untuknya…

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar